privasi-online
Privacy

Privasi Online – Ketakutan dan Jalan keluarnya

Dengan semua sarana dan faedah yang tiba dengan Internet – kekuatan jaringan yang gampang, akses ke info real-time dari penjuru dunia, peristiwa sosial media, langkah kita bisa berencana selama seharian tanpa tinggalkan meja kita – dengan semua faktor yang paling nyaman dan menarik dari dunia online ini, masih tetap ada satu awan hitam yang nampaknya selama-lamanya menggantung di atas kepala pemakai situs. Permasalahan privasi online – atau semakin khusus kembali, tiadanya privasi, nampaknya terus-terusan ada di informasi malam, di kantor, dan di juta-an website di penjuru dunia . Maka, apa ini suatu hal yang perlu kita cemaskan.kuatirkan, atau apa itu kekuatiran yang lain tak perlu?

Apa kita perduli?

Banyak yang yakin jika angkatan muda, atau warga asli digital, mempunyai sikap jemu pada privasi online, tidak begitu mencemaskan siapa atau apa yang bisa terhubung kota asal, nomor telephone, atau info demografis umum mereka. Tetapi yang memikat, sebuah survey belakangan ini mendapati jika sebetulnya anak-anak berumur 18-35 tahun lebih condong mencapai perairan privasi online lebih berhati-hati dibanding kawan-kawan mereka yang lebih tua. Nampaknya walau demografis yang lebih muda kemungkinan lebih rileks mempublikasikan detil individu di halaman media sosial mereka, mereka lebih condong memakai penataan privasi pada tempat untuk secara eksklusif mendikte siapa yang bisa terhubung detil individu itu. Menurut sebuah study PEW, misalkan, cuma 6% remaja yang meluluskan nama depan dan belakang mereka disaksikan oleh warga umum di media sosial. Kemungkinan ini karena banyak yang cuma memakai media sosial untuk selalu terkait dengan rekan-rekan yang telah ada – dan penataan privasi disamakan hingga tidak ada seseorang di luar daftar ‘teman’ mereka yang bisa terhubung info mereka.

Factor ketakutan Facebook

Sayang untuk Facebook, belakangan ini sudah jadi informasi khusus untuk semuanya argumen yang keliru. Virus menebar di halaman Facebook, menyaru sebagai link video ‘lucu’ yang kelihatan di-publish pada dinding Anda oleh rekan-rekan Anda, cuma untuk mengontaminasi computer Anda dan mengambil detil login Anda bila Anda mengekliknya. Facebook belakangan ini mengenalkan penataan privasi baru untuk memungkinkannya pemakai mengatur privasi online mereka dengan lebih bagus, cuma untuk mendapatkan reaksi balik keluh kesah jika penataan baru terlampau sulit, dengan pemakai kebingungan dan cemas mengenai bagaimana sebetulnya info individu mereka dipakai. Bahkan juga ada ‘Quit Facebook Day’ yang dibangun tengah 2010 dalam usaha untuk boikot situs media sosial karena permasalahan privasi online, tapi itu disongsong dengan respon hangat dari pemakai situs. Pada Mei 2010, Mark Zuckerberg, pendiri Facebook, melaunching pengakuan yang mengatakan jika penataan privasi baru dan lebih bagus sedang pada proses. Dengan ‘kontrol privasi yang lebih gampang dipakai’ dan ‘cara gampang untuk mematikan semua service faksi ke-3 ‘, Facebook usaha menentramkan pemakai yang tidak senang dan akhiri isu pelanggaran privasi. Kekuatiran besar yang masih ada ialah jika walau penataan privasi lebih gampang dipakai, penataan itu tidak diputuskan sebagai standar – dalam kata lain, sampai Anda dengan aktif cari penataan privasi dan menggantinya sendiri, profile, info, dan photo Anda ada untuk warga. Ini memiliki arti jika kita ingin jadi individu, kita perlu belajar bagaimana melakukan.

online-privasi

Meredam kami

Situs media sosial mendapatkan hujatan belakangan ini karena beberapa penculikan yang menakutkan dan kejahatan yang lain disebabkan oleh pemakai yang menyaru secara online. Ruangan percakapan sudah lama jadi kekuatiran untuk orangtua, memberikan siapa saja darimanakah saja di dunia jalan keluar untuk komunikasi langsung dengan pemakai Internet di bawah usia. Permasalahan privasi khusus yang lain kerap kali datang dari pembelian online. Karena e-commerce semakin berkembang cepat, sayang, demikian juga kasus perampokan identitas, perampokan uang, dan penipuan. Kenyataannya, banyak yang yakin jika satu perihal yang menghalangi industri e-commerce ialah minimnya pelindungan privasi customer online.

Pengajaran ialah kuncinya

Jadi apa semuanya memiliki arti jika kita harus tutup halaman media sosial kita dan menampik untuk beli secara online? Menariknya, faksi berkuasa kerap menyikapi kekuatiran khalayak mengenai bahaya dunia online dengan merekomendasikan pemakai untuk sembunyikan info dan detil individu apa saja, atau mungkin tidak memakai website tertentu. Tetapi kemungkinan lebih realitas dan logis untuk merekomendasikan pemakai Internet untuk mendidik diri sendiri mengenai penataan privasi website yang kerap dan mereka pakai, dan untuk bertanggungjawab secara individu dan akuntabel saat mereka berperan serta dalam share secara online. Mark Zuckerberg yakin jika ‘orang ingin masih tetap tersambung dan share dengan beberapa orang disekitaran mereka’. Pemakai bisa lakukan ini tanpa perasaan takut privasi bila mereka ambilnya sendiri untuk dikasih tahu dan memakai Internet secara bertanggungjawab. Dunia online sudah buka kesempatan fantastis dalam langkah komunikasi dan share global, dan walau seperti umumnya hal, ini dibarengi dengan ancamannya, kita bisa memakai situs media sosial dan e-commerce tanpa perasaan takut bila kita bertanggungjawab, paham dan mengerti internet.

Leave a Reply

Your email address will not be published.